Senin, 24 Oktober 2016

UNTUK PERAWAN SUCI

Penuh Berkat, Ibu Derita.

Dalam mimpi semua tercipta dari ketidakpastian,
Dari gelisah malam tak terucapkan,
Di sanalah kulihat pandangmu penuh iba
Dan (lebih dari sekedar iba) penuh kesedihan...

Bukan pancaran vulgar kecantikan,
Bukan pula gairah biasa masa muda...
Itu adalah cahaya lain, kelembutan lain,
Bahkan aku tak tahu apakah ada di alam ini...

Penderitaan mistis... sebuah rahmat
Tercipta hanya dari pengampunan, hanya kehalusan
Dan dari kedamaian pada saat terakhir...

Wahai pandangan, pandangan sedih dan iba!
Lihatlah aku begitu terpaku, menitikkan air mata...
Dan biarkan aku bermimpi sepanjang hayat!

Senin, 19 September 2016

IBU


Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir

Bila aku merantau
Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

Ibu adalah gua pertapaanku
Dan ibulah yang meletakkan aku disini
Saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
Aku mengangguk meskipun kurang mengerti

Bila kasihmu ibarat samudra
Sempit lautan teduh
Tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
Tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
Lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
Kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
Lantaran aku tahu
Engkau ibu dan aku anakmu

Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru
Dengan sajakku

NAWAITU



Ingin dilihat besar karena manusia
Ingin dilihat  kecil karena Allah

Buat baik semata-mata karena Allah
Niatkan salawat ini karena Allah

Merekapun datang berbondong-bondong
Bershalawat beramai-ramai

Lelaki dan wanita
Bersentuh bahu bershalawat memenuhkan padang

Mereka berkata, kami datang meramaikan
Niat kami mengenang hijrah nabi

Namun hairan mereka ketika sampai waktunya
diangkakan bilangan ke sekian

Diberi senyum karena mencapai rekod kehadiran
Hingga habis salawat mereka berkeliaran
Padang ini sepi
Mengharap ridha dan restu illahi.

INDONESIA, SATU HARI



Sebuah siaran radio, pagi. Dan koran-koran di meja
tak kudengarkan dan tak kubaca. Dering telepon
dan surat-surat
lalu cermin-cermin kupecahkan.
Kubaca buku alamat dan kartu nama.

Hidup dari matahari ke kegelapan.
dan bangun ke dunia mimpi.
menjadi berbaris catatan membosankan.
berlembar sampah yang menggoda untuk dibuang.

Hidup yang sesungguhnya adalah mimpi yang lugu.
begitu singkat dan menggemaskan. atau ketakutan
yang aneh dan menggelikan.

tapi dunia yang kau huni
adalah kesadaran yang menyesatkan
lalu menjadi sesobek kisah
yang kurang menarik untuk didongengkan.